warming
DAMPAK PERUBAHAN IKLIM DI WILAYAH ASIA PASIFIK
sebuah ringkasan laporan dari IPCC

Tulisan ini merupakan terjemahan singkat laporan IPCC – Intergivernmental Panel on Climate Change tentang dampak climate change. Diterjemahkan oleh Torry, manager pengkampanye tambang – energy WALHI Eksektutif Nasional. Sebuah kenyataan yang harus dihadapi oleh seluruh umat manusia. Ancaman bencana telah di depan mata akibat penghabaian yang dilakukan manusia paska revolusi industri. Pengabaian para pemimpin negara-negara maju atas produksi CO2 yang begitu tinggi. Pengabaian pemimpin dunia negara berkembang dan miskin yang mengekploitasi SDA untuk memebuhi pendapatan negaranya. Pengabaian kaum berduit yang tidak peduli pemakaian kendaran2 mewahnya, pola dan gaya hidupnya mengancam kehidupan seluruh mahluk di bumi

Perubahan iklim global biasanya dikaitkan dengan peningkatan suhu dunia atau lebih dikenali sebagai pemanasan global. Pemanasan global merupakan satu indikasi atau tanda-tanda meningkatnya suhu permukaan baik di atas daratan, lautan, ataupun kombinasi keduanya secara menyeluruh.

Pemanasan global berpuncak daripada pembakaran bahan api fosil seperti arang batu, minyak dan gas menyebabkan peningkatan mendadak gas rumah hijau seperti karbon dioksida, metana dan klorofluorokarbon (CFC) dalam atmosfera. Gas rumah hijau yang terkumpul tidak dapat dibebaskan dan terperangkap dalam atmosfera menyebabkan bumi menjadi lebih panas.

Baru-baru ini dilansir dari kompas, Negara2 yang tergabung wilayah asia afrika akan mengadakan pertemuan yang membahas globalwarming yang mengancam wilayah asia afrika. Kebutuhan energi yang semakin meningkat membuat negara2 kaya mengeksploitasi SDA negara-negara miskin. Kawasan Asia afrika yang paling tidak siap menghadapi ancaman itu karena sebagian besar merupakan negara miskin dan berkembang. Diperkirakan Tahun 2050 kawasan asia afrika akan mengalami krisis air. waduuhh kalo tidak cepat-cepat menemukan solusinya ntar kita bakalan mengalami kekeringan dunk. Ga cuma kekurangan air,tapi pangan juga. Tanaman padi otomatis butuh air dunk. Hilangnya pendapatan dari pertanian dan bertambahnya biaya pengelolaan sumber air, pesisir, dan penyakit serta risiko-risiko keseehatan akan menyeret aktifitas ekonomi, khususnya di negara-negara yang saat ini memiliki pertumbuhan stagnan. Lebih jauh lagi, bahkan dengan ekonomi regional yang bertumbuh, dampak lokal perubahan iklim seperti kolapsnya perikanan atau terbenamnya lahan pertanian, dapat memporakporandakan ekonomi lokal (Preston et al 2006).